Jumat, 20 Januari 2017

peMIEmpin INSTAN



-Saat suara rakyat bukan lagi suara Tuhan-
Assalamualaikum Wr Wb
Setelah lama jarang nulis akhirnya nulis juga walaupun lumayan berat materi kali ini hehehe bahas politik so selamat membaca yaa...
Saat ini kemudahan akses dalam segala hal membuat semua ingin yang cepat,tidak repot,awet dan  murah tidak peduli apa efek yang ditimbulkan setelahnya. Semua pasti pernah makan yang namanya mie instan kan makanan yang kalo dilihat dari segi harga yang tergolong murah dan penyajian yang tidak membutuhkan waktu yang lama terus lumayan juga buat ganjel perut pas tanggal tua biasanya ini makanan idaman ala anak kos hehehe *curhat*.
Nah dari faktor-faktor diatas itulah yang membuat para pembisnis terus berinovasi menciptakan segala hal yang bisa dinikmati secara langsung dengan harga yang murah serta cepat dan mudah didapatkan ya contohnya ada mie,bubur,sambel kaleng dll. Nah terus apa hubungannya antara mie sama judul sekarang yaitu pemimpin? Apa iya ada pemimpin yang kaya mie bisa instan begitu? Jawabannya ada tapi yang ini engga bisa dimakan yaaa...  Jadi di judul kali ini akan membahas seorang pemimpin dilihat dari sudut pandang mie,lho..?. 

Apa sih pengertian pemimpin itu? Apa hanya orang yang senengnya nyuruh-nyuruh saja dan sukanya marah-marah sama bawahannya?  Apa setiap pemimpin itu terlihat orang yang hanya bersuka suka saja di dalam jabatan yang dia pegang sehingga bisa berperilaku juga sesuka-suka nya? Mayoritas kan seperti itu tapi seorang pemimpin lebih dari itu semua. Pemimpin adalah orang yang mampu menyatukan beberapa sifat dan keegoisan setiap anggota nya menjadi sebuah visi dan misi untuk mencapai tujuan yang telah sama-sama ditetapkan. Pemimpin juga harus bisa memegang amanah rakyat yang telah mempercayakan untuk menjadi seorang Pemimpin. Itu yang berat, amanah itulah yang akan dipertanggung jawabkan di Akhirat kelak apakah rakyatmu sejahtera? Apakah rakyatmu merasa aman? Dan apakah rakyatmu merasa adil? Jadi seorang Pemimpin tidak seindah dan semudah janji kampanye yang diucapkan, semua ada tanggung jawab dan konsekuensi.

Nah kalo udah tau setiap keputusan dan kebijakan yang diambil pasti akan berdampak pada rakyat yang dipimpinnya sekecil apapun itu dampaknya tapi kenapa masih ada saja pemimpin yang tidak amanah mengambil yang bukan miliknya. Korupsi misalnya, kejahatan ini punya efek yang sangat meluas, kenapa? Karena dana yang seharusnya diberikan untuk rakyat disalahgunakan untuk kepentingan pribadinya atau mungkin partai pengusung waktu pilkada lalu. Biaya politik memang tidak sedikit maka dari itu banyak calon Legislatif ataupun Calon Kepala Daerah yang gagal dalam pilkada menjadi gila karena terlilit hutang untuk biaya kampanye dan pencalonannya. Yang lebih menarik lagi belakangan ini Partai mengusung artis-artis untuk maju dalam pilkada karena mereka dinilai telah dikenal masyarakat luas sehingga partai tidak kesulitan dalam mengenalkannya ke masyarakat padahal belum tentu setiap artis yang maju dalam pilkada memiliki pengetahuan tentang memimpin dan politik kalo udah gini ya lahirlah namanya pemimpin instan. Kurangnya pengetahuan apalagi pengalaman dalam memimpin itu bisa dimanfaatkan oleh orang-orang jahat yang ingin mengambil keuntungan dari semua proyek daerah tersebut tidak mustahil rakyat lagi yang akan dirugikan. Tapi sekali lagi ini Indonesia pemilihan dilakukan secara demokrasi rakyat bebas memilih para pemimpinnya sendiri tanpa ada intervensi dari manapun jadi mulai sekarang rakyat juga harus selektif dan punya pengetahuan tentang calon yang maju dalam pilkada melihat rekam jejaknya dan yang pastinya jangan mau sama yang namanya money politic racun demokrasi yang akan merusak dan merugikan diri kita sendiri kedepannya apabila memilih pemimpin yang salah.

Lalu kenapa masyarakat kita masih saja mudah terpedaya oleh janji-janji kampanye itu? Jawabannya adalah karena masyarakat kita masih memandang sebelah mata pendidikan politik mereka menganggap politik itu rumit, terlalu tinggi dan bahkan yang lebih bahayanya lagi mereka berpendapat “politik itu urusan pemerintah ngapain mikirin gituan” wah kalo ini namanya sikap peduli kita buat negara mulai hilang rasa acuh dan percaya sepenuhnya itu yang berbahaya, bagaimanapun juga Permerintah memerlukan kontrol dalam menjalankan kebijakannya siapa yang akan mengawasi? ya pasti tentu rakyatnya sendiri kan Negara kita berkedaulatan rakyat kalo rakyat nya saja tidak peduli terus gimana dong? Banyak yang masih kurang suka berita tentang politik dan kalah sama sinetron apalagi drama India alasannya karena engga paham beritanya sama soalnya tv nya dikuasai ibu gimana mau nonton berita hahaha. Tapi percayalah pendidikan politik itu sangat penting sifatnya karena kenapa dengan tau perkembangan pemerintahan saat ini seperti kebijakan yang dikeluarkan,proses demokrasi dan hukum,perekonomian dll disitu kita akan tahu mana yang pro rakyat mana yang pro yang lainnya *ahsudahlah*. Remaja yang merupakan penerus bangsa ini calon pemimpin bangsa kalo masih kurang peduli sama bangsanya sendiri mau diwarisin kemana apa mau ikut ikutan juga jadi pemimpin yang kaya mie itu, istilahnya “duduk dulu baru didik”. Bapak Presiden kan dalam programnya menyuarakan Revolusi Mental wajar karena mental kita terutama anak muda mulai hilang rasa pedulinya,rasa cinta tanah air merasa acuh terhadap perubahan bahkan ada yang terlalu terbawa arus perubahan sehingga menghilangkan jati dirinya. Jadi masih merasa kamu bukan bagian dari apa-apa? YOU ARE THE FUTURE LEADER

Sedikit mengutip kata dari penyair Jerman Berthold Brecht
“Buta yang terburuk adalah buta politik,dia tidak mendengar,tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup,harga kacang,harga ikan,harga tepung,biaya sewa,harga sepatu dan obat semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur,anak terlantar dan pencuri terburuk dari semua pencuri,politisi buruk rusaknya perusahaan nasional dan multinasional.”

Begitu banyak dampak yang dihasilkan dari kebutaan akan politik termasuk salah satunya adalah lahirnya pemimpin instan yang kurang mengerti cara memimpin apalagi sampai hanya sekedar ikut-ikut saja lalu dimanfaatkan sebagai boneka siapa yang jadi korbannya ? RAKYAT.
Pemimpin yang seperti ini sudah pasti bukan lagi pemimpin yang pro rakyat karena ia sudah dikendalikan seperti boneka segala kebijakan nya hanya menguntungkan satu sisi termasuk dalam segala hal dan rakyat sebagai pemegang kekuasaan yang sesungguhnya hanya bisa diam dan meratapi katanya suara rakyat itu suara Tuhan tapi kenapa suara kami saat ini kalah. Sudah tertutupkah hati anda sehingga suara Tuhan pun anda acuhkan? 

Mulailah belajar dari kesalahan saat ini untuk hasil baik kedepannya dan pilihlah Pemimpin  bukan hanya dari janji yang diucapkan sudah cukup pembodohan yang mereka berikan. Tidak ada kata terlambat selama kita masih mau memperbaikinya.
Sekian artikel kali ini semoga bermanfaat
Wassalamualaikum Wr Wb