Minggu, 26 Juli 2020

Hidup untuk "gagal" ?

Assalamualaikum wr wb
Kali ini kita akan bahas tentang realitas hidup yang terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita impikan lalu gimana kita menyikapinya? jadi selamat membaca yaa..
Jadi inget dulu guru sejarah SMP pernah bilang “hidup Cuma sekali maka hiasi dengan kesuksesan apabila tidak sukses lebih baik jangan hidup karna hanya akan menyusahkan lainnya”. Sebenernya definisi dari gagal itu menurut KBBI adalah tidak berhasil,tidak tercapai,tidak jadi. Banyak orang mengartikan bahwa gagal adalah akibat dari tidak tercapainya prestasi yang telah direncanakan atau tidak berhasilnya rencana yang telah dibuat. Berarti sebelum seseorang itu dianggap gagal seseorang itu harus lah punya rencana terlebih dahulu lalu melakukan apa yang telah direncanakan dan apabila hasil yang diharapkan tidak sesuai maka bisa dikatakan rencana itu gagal. Lalu bagaimana dengan orang yang belum atau bahkan tidak sama sekali memiliki rencana sebelumnya tetapi diperkirakan  mendapatkan hasil yang tidak sesuai dan dapat dikatakan gagal sebelum mencoba?. 
Bingung? Oke kita ambil contoh pertama apabila ada seorang pedagang yang menjual baju muslim saat bulan ramadhan menjelang idul fitri telah merencanakan untuk menjual nya memang saat menjelang lebaran agar mendapat untung yang besar tetapi saat dihitung hasilnya dia merugi karena barang dagangannya kalah saing dengan Departemen Store yang menawarkan diskon besar-besaran menjelang lebaran. Pedagang memiliki rencana dan sudah melakukan rencana yang dibuat juga tetapi hasilnya tidak sesuai dan merugi maka bisa dibilang rencana dia gagal. Contoh kedua apabila ada pedagang yang akan menjual baju muslim pada hari biasa bukan menjelang lebaran hasilnya malah akan baik karena Departement Store pada saat itu sedang tidak mengadakan diskon jadi harganya pasti akan jauh lebih murah dan malah untung tanpa rencana malah berhasil mendapat keuntungan. Kenapa pedagang pertama yang telah merencanakan sebelumnya malah gagal sedangkan pedagang kedua yang tidak merencanakan apa-apa malah berhasil?. Sebenarnya gagal atau tidaknya rencana itu dilihat dari mana?.
Dari kecil kita selalu diajarkan untuk bermimpi dan membuat cita-cita saat besar nanti ingin jadi apa bahkan sampai yang tidak rasional sekalipun seperti ingin jadi pahlawan super misalnya hahaha wajar sih namanya juga masih anak-anak. Tapi perlahan cita-cita itu berubah menjadi lebih realistis dengan melihat perkembangan yang ada dan yang sesuai minat dan timbul pertanyaan “sebenernya bakat aku tuh apa sih dan mau jadi apa aku nanti?” tapi terkadang semua itu tidak sesuai apa yang kita rencanakan sebelumnya pernah kan denger istilah terkadang realita tidak sesuai ekspektasi nah kalo sudah begini gimana?. Yang jadi permasalahan bagi setiap orang adalah apabila cita-cita kita tidak bisa terwujud apa sudah pasti hidup kita dikatakan gagal? Tidak.
Yang pasti gagal bukan dilihat  hanya dari hasil yang diraih tetapi juga dari beberapa aspek seperti rencana,sumber daya dan proses apabila hasilnya memang tidak sesuai mungkin rencana kita yang kurang matang,mungkin sumber daya yang kurang mampu dan mungkin proses kita yang salah sehingga perlu melihat semua aspek agar didapat hasil yang baik termasuk soal pendidikan. Nah apabila kita ingin bercita-cita tentunya harus lah dipersiapakan dulu kebutuhan agar cita-cita tersebut bisa tercapai misalnya ingin jadi pilot maka kita harus sekolah penerbangan dulu, apa yang terjadi jika kita hanya mampu bermimpi tanpa adanya rencana untuk mewujudkannya? Ya itulah realitas saat ini di dunia pendidikan kita.
Sebagian besar mereka putus sekolah karena biaya padahal mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu amanat pada UUD 1945 namun hingga 75 tahun kita merdeka masih ada saja adik-adik kita yang tidak bersekolah dan malah diusianya yang masih muda dipagi hari sudah ada dipasar-pasar bekerja menjadi kuli panggul ataupun pekerjaan kasar lainnya yang seharusnya mereka duduk dan menyimak pelajaran dikelas. Apa hidup dan masa depan mereka telah gagal bahkan sebelum mereka rencanakan ingin jadi apa kedepannya karena mereka putus sekolah diusia dini, adil kah itu untuk pewaris bangsa ini kedepannya harus sulit menuntut ilmu bahkan dinegara dimana ia dilahirkan. Ironis memang tapi ini realita nya saat mata kita hanya tertuju pada pembangunan infrastruktur yang besar-besaran tapi disisi lain ada sekolah yang mau rubuh dan tak layak untuk proses belajar mengajar serta akses jalan yang sulit didaerah terpencil untuk menuju sekolah dikesampingkan begitu saja. 
“Bapak Anggota Dewan Yang Terhormat lihatlah dengan hati Bapak sekalian dan Jangan melihat dengan mata saja karena mata sekalipun bisa menipu tapi hati selalu berkata benar” –ARH-

Mereka hidup bukan untuk gagal mereka adalah pewaris bangsa ini kedepannya jika impian mereka saja sudah sulit dicapai karena tidak mendapat pendidikan yang layak sedangkan persaingan saat ini semakin berat lalu bagaimana dengan masa depan mereka dan bangsa ini. hanya ada satu yang mereka masih pegang kuat hingga 75 tahun kita merdeka yaitu MIMPI, mimpi mendapatkan pendidikan yang layak, mimpi mendapatkan akses jalan yang baik, mimpi akan para wakil rakyat yang tidak lupa akan janji nya dulu, mimpi untuk Indonesia yang baik yang damai.
Manusia hanya bisa berencana,berusaha dan berdoa memohon kepada Allah tetapi Allah SWT yang berkehendak “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (QS. Al-Mu’min :60). Percayalah skenario Allah SWT jauh lebih baik dari apa yang tidak kita duga sekalipun jadi buka berarti kita telah gagal tetapi sesungguhnya Allah SWT telah menyiapkan kejutan diakhir nanti jadi yang hanya kita lakukan adalah senantiasa berserah diri dan bersyukur dengan nikmat yang diberikan.
Realita terkadang tidak selalu sesuai dengan ekspektasi. Apa yang kita harapkan belum tentu terjadi bahkan malah apa yang tidak kita rencanakan akan terwujud, manusia memiliki keterbatasan dalam memperkirakan apa yang terjadi kita tidak tau rencana Allah SWT tetapi yang pasti itu yang terbaik tinggal bagaimana kita menyikapi dan mengambil manfaatnya sehingga kita tidak terlalu larut dalam perasaan gagal dan mampu bangkit. 
Terima kasih semoga bermanfaat 
Wassalamu'alaikum Wr Wb


Jumat, 20 Januari 2017

peMIEmpin INSTAN



-Saat suara rakyat bukan lagi suara Tuhan-
Assalamualaikum Wr Wb
Setelah lama jarang nulis akhirnya nulis juga walaupun lumayan berat materi kali ini hehehe bahas politik so selamat membaca yaa...
Saat ini kemudahan akses dalam segala hal membuat semua ingin yang cepat,tidak repot,awet dan  murah tidak peduli apa efek yang ditimbulkan setelahnya. Semua pasti pernah makan yang namanya mie instan kan makanan yang kalo dilihat dari segi harga yang tergolong murah dan penyajian yang tidak membutuhkan waktu yang lama terus lumayan juga buat ganjel perut pas tanggal tua biasanya ini makanan idaman ala anak kos hehehe *curhat*.
Nah dari faktor-faktor diatas itulah yang membuat para pembisnis terus berinovasi menciptakan segala hal yang bisa dinikmati secara langsung dengan harga yang murah serta cepat dan mudah didapatkan ya contohnya ada mie,bubur,sambel kaleng dll. Nah terus apa hubungannya antara mie sama judul sekarang yaitu pemimpin? Apa iya ada pemimpin yang kaya mie bisa instan begitu? Jawabannya ada tapi yang ini engga bisa dimakan yaaa...  Jadi di judul kali ini akan membahas seorang pemimpin dilihat dari sudut pandang mie,lho..?. 

Apa sih pengertian pemimpin itu? Apa hanya orang yang senengnya nyuruh-nyuruh saja dan sukanya marah-marah sama bawahannya?  Apa setiap pemimpin itu terlihat orang yang hanya bersuka suka saja di dalam jabatan yang dia pegang sehingga bisa berperilaku juga sesuka-suka nya? Mayoritas kan seperti itu tapi seorang pemimpin lebih dari itu semua. Pemimpin adalah orang yang mampu menyatukan beberapa sifat dan keegoisan setiap anggota nya menjadi sebuah visi dan misi untuk mencapai tujuan yang telah sama-sama ditetapkan. Pemimpin juga harus bisa memegang amanah rakyat yang telah mempercayakan untuk menjadi seorang Pemimpin. Itu yang berat, amanah itulah yang akan dipertanggung jawabkan di Akhirat kelak apakah rakyatmu sejahtera? Apakah rakyatmu merasa aman? Dan apakah rakyatmu merasa adil? Jadi seorang Pemimpin tidak seindah dan semudah janji kampanye yang diucapkan, semua ada tanggung jawab dan konsekuensi.

Nah kalo udah tau setiap keputusan dan kebijakan yang diambil pasti akan berdampak pada rakyat yang dipimpinnya sekecil apapun itu dampaknya tapi kenapa masih ada saja pemimpin yang tidak amanah mengambil yang bukan miliknya. Korupsi misalnya, kejahatan ini punya efek yang sangat meluas, kenapa? Karena dana yang seharusnya diberikan untuk rakyat disalahgunakan untuk kepentingan pribadinya atau mungkin partai pengusung waktu pilkada lalu. Biaya politik memang tidak sedikit maka dari itu banyak calon Legislatif ataupun Calon Kepala Daerah yang gagal dalam pilkada menjadi gila karena terlilit hutang untuk biaya kampanye dan pencalonannya. Yang lebih menarik lagi belakangan ini Partai mengusung artis-artis untuk maju dalam pilkada karena mereka dinilai telah dikenal masyarakat luas sehingga partai tidak kesulitan dalam mengenalkannya ke masyarakat padahal belum tentu setiap artis yang maju dalam pilkada memiliki pengetahuan tentang memimpin dan politik kalo udah gini ya lahirlah namanya pemimpin instan. Kurangnya pengetahuan apalagi pengalaman dalam memimpin itu bisa dimanfaatkan oleh orang-orang jahat yang ingin mengambil keuntungan dari semua proyek daerah tersebut tidak mustahil rakyat lagi yang akan dirugikan. Tapi sekali lagi ini Indonesia pemilihan dilakukan secara demokrasi rakyat bebas memilih para pemimpinnya sendiri tanpa ada intervensi dari manapun jadi mulai sekarang rakyat juga harus selektif dan punya pengetahuan tentang calon yang maju dalam pilkada melihat rekam jejaknya dan yang pastinya jangan mau sama yang namanya money politic racun demokrasi yang akan merusak dan merugikan diri kita sendiri kedepannya apabila memilih pemimpin yang salah.

Lalu kenapa masyarakat kita masih saja mudah terpedaya oleh janji-janji kampanye itu? Jawabannya adalah karena masyarakat kita masih memandang sebelah mata pendidikan politik mereka menganggap politik itu rumit, terlalu tinggi dan bahkan yang lebih bahayanya lagi mereka berpendapat “politik itu urusan pemerintah ngapain mikirin gituan” wah kalo ini namanya sikap peduli kita buat negara mulai hilang rasa acuh dan percaya sepenuhnya itu yang berbahaya, bagaimanapun juga Permerintah memerlukan kontrol dalam menjalankan kebijakannya siapa yang akan mengawasi? ya pasti tentu rakyatnya sendiri kan Negara kita berkedaulatan rakyat kalo rakyat nya saja tidak peduli terus gimana dong? Banyak yang masih kurang suka berita tentang politik dan kalah sama sinetron apalagi drama India alasannya karena engga paham beritanya sama soalnya tv nya dikuasai ibu gimana mau nonton berita hahaha. Tapi percayalah pendidikan politik itu sangat penting sifatnya karena kenapa dengan tau perkembangan pemerintahan saat ini seperti kebijakan yang dikeluarkan,proses demokrasi dan hukum,perekonomian dll disitu kita akan tahu mana yang pro rakyat mana yang pro yang lainnya *ahsudahlah*. Remaja yang merupakan penerus bangsa ini calon pemimpin bangsa kalo masih kurang peduli sama bangsanya sendiri mau diwarisin kemana apa mau ikut ikutan juga jadi pemimpin yang kaya mie itu, istilahnya “duduk dulu baru didik”. Bapak Presiden kan dalam programnya menyuarakan Revolusi Mental wajar karena mental kita terutama anak muda mulai hilang rasa pedulinya,rasa cinta tanah air merasa acuh terhadap perubahan bahkan ada yang terlalu terbawa arus perubahan sehingga menghilangkan jati dirinya. Jadi masih merasa kamu bukan bagian dari apa-apa? YOU ARE THE FUTURE LEADER

Sedikit mengutip kata dari penyair Jerman Berthold Brecht
“Buta yang terburuk adalah buta politik,dia tidak mendengar,tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup,harga kacang,harga ikan,harga tepung,biaya sewa,harga sepatu dan obat semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur,anak terlantar dan pencuri terburuk dari semua pencuri,politisi buruk rusaknya perusahaan nasional dan multinasional.”

Begitu banyak dampak yang dihasilkan dari kebutaan akan politik termasuk salah satunya adalah lahirnya pemimpin instan yang kurang mengerti cara memimpin apalagi sampai hanya sekedar ikut-ikut saja lalu dimanfaatkan sebagai boneka siapa yang jadi korbannya ? RAKYAT.
Pemimpin yang seperti ini sudah pasti bukan lagi pemimpin yang pro rakyat karena ia sudah dikendalikan seperti boneka segala kebijakan nya hanya menguntungkan satu sisi termasuk dalam segala hal dan rakyat sebagai pemegang kekuasaan yang sesungguhnya hanya bisa diam dan meratapi katanya suara rakyat itu suara Tuhan tapi kenapa suara kami saat ini kalah. Sudah tertutupkah hati anda sehingga suara Tuhan pun anda acuhkan? 

Mulailah belajar dari kesalahan saat ini untuk hasil baik kedepannya dan pilihlah Pemimpin  bukan hanya dari janji yang diucapkan sudah cukup pembodohan yang mereka berikan. Tidak ada kata terlambat selama kita masih mau memperbaikinya.
Sekian artikel kali ini semoga bermanfaat
Wassalamualaikum Wr Wb

Kamis, 02 Juni 2016

Ketakutan KU



Assalamu’alaikum Wr Wb

Kali ini akan membahas topik ketakutan jadi selamat membaca ya....
Saat sedang menonton film horor apa yang kamu rasakan rasa takut kah? Saat kamu menonton film drama apa yang kamu rasakan rasa sedih kah? .

Dalam hidup semua orang punya tujuan, punya mimpi yang harus dicapai karena dalam diri manusia itu sendiri memiliki kehendak untuk mendapatkan sesuatu yang mungkin itu berhubungan dengan kepercayaan diri,perkembangan pribadi ataupun juga ketenangan batin. Semua manusia selalu berusaha untuk berusaha mewujudkan tujuan itu hidup tanpa tujuan manusia hanya seperti 

”kapas yang terbang ditiup angin dan hanya
mengikuti arah angin tanpa tau
akan berhenti dimana.”

Banyak mungkin diantara kita menyerah dan mengeluh saat ingin mewujudkan tujuan itu,dan malah merasa apa yang ingin diwujudkan begitu berat hambatannya dan kemudian berhenti. Padahal itulah sifat alami tujuan membawa kepada wilayah baru yang sebelumnya belum pernah kita duga,membawa kepada ketakutan dan keraguan pada diri sendiri tentang tujuan itu. Keraguan dan ketakutan itu sendiri lah yang menjadi virus dan hambatan dalam mencapai tujuan,point terpentingnya adalah bukan bagaimana cara menghindari ketakutan itu sendiri tapi adalah bagaimana kita dapat mengambil keputusan yang tepat saat mengahadapi hambatan-hambatan itu.

Definisi ketakutan itu sendiri adalah suatu tanggapan emosi terhadap ancaman serta mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respon terhadap suatu stimulus tertentu,seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Para ahli psikologi juga menyebutkan bahwa takut adalah salah satu dari emosi dasar manusia selain kebahagiaan,kesedihan dan kemarahan. Ketakutan berbeda dengan kegelisahan jika ketakutan adalah adanya suatu perilaku spesifik untuk melarikan diri dan menghindar,sedangkan kegelisahan adalah hasil dari persepsi atau asumsi-asumsi pribadi yang membayangkan akan hal-hal buruk yang kemungkinan akan terjadi. (wikipedia.id)



Sedangkan secara moral ketakutan itu sendiri adalah bayangan akibat perilaku yang telah terjadi dan menimbulkan rasa trauma sehingga menganggap hal itu berbahaya dan harus dihindari dengan alasan apapun. Tak ada ada yang mendorong kita untuk berlindung atau menghindar dari bahaya kecuali rasa takut. Tak ada yang mendorong kita untuk berupaya mencari dan memperoleh keselamatan di dunia maupun akhirat kecuali juga rasa takut terhadap azab Allah. Maka apa jadinya jika Allah tidak mengkaruniai rasa takut pada diri kita? Tentu saja akan dengan mudahnya kita terlena dalam kenikmatan sementara didunia ini dan malah terjerumus dalam siksa neraka dan perbuatan yang mengantarkan kepada kesengsaraan maupun penderitaaan di akhirat.

Allah SWT berfirman di dalam surah Ali Imran ayat 175
“...Maka janganlah kalian takut kepada mereka,tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian orang beriman.”

 Terus apa sih sebab-sebab yang bikin kita takut selama ini?
Ketakutan itu sendiri dibagi menjadi beberapa tingkat Tingkat pertama adalah ketakutan terhadap apa yang terjadi pada diri sendiri seperti:
-          Penuaan
-          Sakit
-          Meninggal dll
Rasa takut itu sendiri akan melebar ke seluruh area hidup dan lambat laun akan mempengaruhi cara berfikir kita yaitu ketakutan pada Tingkat ke kedua adalah rasa takut yang ditimbulkan akibat pikiran kita sendiri seperti:
-          Ditolak
-          Kegagalan
-          Ditipu dll
Dalam tingkat ini rasa takut sudah hampir setengah menguasai diri dilihat dari tingkah laku yang mulai berbeda atau bahkan mulai ragu-ragu dikarenakan bayangan kegagalan yang selalu difikirkan sehingga takut untuk mengambil keputusan.
 Dan pada tingkat terakhir atau tingkat ketiga adalah rasa takut tidak bisa menerima segala hal. Takut pada level ini sudah fatal dikarenakan rasa takut yang berlebihan sehingga malah bersifat irasional dan sudah tidak adanya kepercayaan diri untuk hidup apalagi mengambil keputusan. Rasa tidak bisa menerima segala hal yang telah atau akan terjadi ini menyebabkan kita buta akan takdir yang telah ditentukan oleh Allah SWT dan selalu merasa takut jika pada suatu hari kemungkinan yang buruk akan terjadi baik pada tubuh yang semakin menua ataupun kegagalan dimasa depan akibat dimasa ini kita belum maksimal dalam mewujudkan tujuan itu.

Jika diatas rasa takut itu diidentikan dengan sesuatu hal yang bisa membuat hidup kita menjadi negatif. “Kenapa harus ada rasa takut dan mengapa diciptakan rasa takut ?”
Dari ketiga tingkat takut diatas dapat kita ambil pertanyaan ”lalu takut yang bagaimana yang diperbolehkan?”.
Dan “bagaimana membuat rasa takut yang negatif itu menjadi takut yang positif?”.


 
Dimulai dari “Kenapa harus ada rasa takut dan mengapa diciptakan rasa takut ?”
Alasan kenapa harus ada rasa takut adalah manusia itu memiliki sifat tidak pernah merasa puas *setuju* setelah mendapat sesuatu hal yang menjadi keingginannya tentu dia ingin sesuatu yang lain lagi begitu seterusnya. Nah rasa takut dibutuhkan untuk membatasi ego manusia ini, semisal contoh tubuh manusia memiliki batas kemampuan semakin bertambah umur maka akan bertambah tua nah apabila jika tubuh sudah tua beberapa organ tubuh tidak akan bisa maksimal dalam melakukan kegiatan.  Ini masih takut pada Tingkat 1 yaitu takut yang terjadi pada diri dalam hal ini menua. Bayangkan jika manusia tidak bisa menua dan awet muda apa yang dia takutkan toh” tubuh saya masih sehat saya akan mengejar semua tujuan itu tanpa ada hambatan apapun”, manusia akan bertindak sesukanya tanpa ada batasan dia tidak ingat akan kematian dan tidak ingat akan adanya kehidupan lagi setelah ini hidupnya akan terus terpacu untuk mengejar dunia. Jika manusia tidak memiliki rasa takut akan sebuah kegagalan maka dia juga tidak akan menyiapkan rencana untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk yang terjadi akibat perbuatannya jadi manusia akan bersifat apatis dan bertindak tanpa kontrol. Allah SWT menciptakan rasa takut sebagai batasan dalam diri manusia agar senantiasa mengingat jika kemampuan manusia memiliki batas,memiliki tujuan akhir yang harus dipenuhi dalam tugasnya sebagai makhluk ciptaan-Nya,tidak bertindak yang dapat merusak apalagi membunuh sesama mahkluk Allah SWT. 

“Takut adalah batasan tapi bukan sebuah penghalang.”
(ARH)

Yang kedua ”lalu takut yang bagaimana yang diperbolehkan?”.
Kalo jawab pertanyaan ini kita harus tau dulu apa tujuan manusia diciptakan .
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaku.” (Q.S Adz-Dzariyat:56)
Manusia diciptakan agar bisa menjadi manfaat bagi sekitarnya memberikan kontribusi positif dan senantiasa melakukan hal hanya semata untuk beribadah ya karena itu tujuannya. Tapi seringkali kita melenceng jauh dari tujuan itu karena apalagi kalo bukan rasa takut yang mulai hilang dan beranggapan bahwa hidup ini hanya sampai disini setelah ini selesai faktor inilah yang membuat angka kematian akibat bunuh diri semakin tinggi berfikir pendek tanpa jangka panjang yang terjadi kedepannya. Contohnya saat kita akan mengerjakan ujian nasional kita selalu takut jika nanti tidak lulus ketakutan itu semakin menjadi-jadi ditambah dengan persiapan kita yang kurang matang dalam mengahdapi ujian itu. Pernah kah kita takut pada kematian?  yang sudah pasti setiap yang bernyawa akan merasakannya, tanpa membawa sesuatu apapun dan tanpa ada kontribusi saat masih hidup. Disinilah pentingnya rasa takut menciptakan batasan saat tujuan yang kita lakukan melenceng dari tujuan semula. Takut jika tidak bisa memberikan kontribusi dalam hidup dan hanya menjadi yang biasa-biasa saja. 

Yang ketiga “bagaimana membuat rasa takut yang negatif itu menjadi takut yang positif?”.
Takut negatif adalah saat dimana rasa takut yang malah menghambat kemajuan kamu untuk dapat mencapai target yang kamu siapkan. Takut ini hanya menjadi bayangan negatif akan kegagalan rencana yang dibuat  padahal belum dicoba dilakukan semisal siswa takut tidak lulus UN akibat bayangan mereka apabila tidak lulus UN maka berakhir sudah dan sia-sia apa yang mereka lakukan selama 3 tahun belajar. Padahal masa depan bukan hanya ditentukan dari UN saja lho ada faktor-faktor lain namun terkadang kita hanya melihat sisi depan tanpa melihat sisi lainnya.
Lalu gimana cara merubah takut negatif ini yang setiap orang pasti merasakan?.
Adalah dengan terus merubah mindset kita bahwa semua hal tidak selalu dinilai dari satu jalan yang apabila jalan itu gagal maka gagal sudah semuanya, tapi dimana ada kemauan untuk merubah nya disitulah akan ada jalan. Takut yang positif adalah saat ketakutan mu untuk sesuatu yang lebih besar dan memiliki dampak yang besar juga terutama bagi masyarakat jadi kenapa engga mulai dari sekarang mulai bekerja untuk masyarakat yang saat ini memerlukan sebuah perubahan?.

“Jangan biarkan ketakutanmu akan dunia menguasai
dan menghalangi niatmu untuk akhirat”.
(ARH)

Semoga bermanfaat ya terima kasih. ^_^

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Sabtu, 07 Mei 2016

Negara Agraris Yang Kekurangan Beras



Assalamu’alaikum Wr Wb udah lama engga nulis hehehe kali ini kita akan bahas masalah pangan di Indonesia so selamat membaca yaaa..
Gemah Ripah Loh Jinawi Toto Tentrem Karto Raharjo pernah engga dengar ungkapan itu ? ya begitulah gambaran keadaan alam Indonesia kita. Gemah ripah loh jinawi berarti (kekayaan alam yang berlimpah) sedangkan  toto tentrem karto raharjo (keadaan yang tenteram)  tapi seakan makna itu telah lama pergi dari Bumi Pertiwi. Masihkan alam kita kaya dan berlimpah seperti dulu jika pun masih ada mungkin bukan milik rakyat Indonesia sepenuhnya bukan? masihkan Indonesia kita aman dan tentram seperti dulu setelah di setiap daerah selalu ada konflik agama,etnis atau bahkan malah para pemudanya sendiri yang menjadi penerus bangsa terlibat tindak kriminal baik itu narkoba,pencurian,pembunuhan dll. Tapi jika membahas alam Indonesia memang tidak akan ada habisnya kekayaan yang begitu melimpah sampai Belanda menguasai kita selama 3.5 abad lamanya,tapi kali ini kita akan mambahas masalah pangan di Indonesia yang mendapat predikat sebagai negara agraris. Tentu kita tidak asing dengan nama beras “Pandan Wangi” beras asal Cianjur ini begitu terkenal karena aroma dan rasanya. Tapi tahukah kamu bahwa negara kita juga termasuk pengimpor beras terbesar why? katanya kita negara agraris tapi kok beras aja masih kekurangan? Kurang produktifkah petani kita sendiri dalam menghasilkan beras atau tanah kita yang memang sudah tidak ada lahan untuk bertani karena begitu pesatnya pembangunan gedung-gedung sampai lahan bertani semakin sedikit?.

Menurut data dari Worldatlas.com,Rabu (27/1/2015),lima negara terbesar pengimpor beras mempengaruhi presentase 30 persen dari total sikulasi perdagangan beras. Sementara negara lain yang masuk peringkat 10 besar mampu mempengaruhi 50 persen dari total impor beras dunia. Penasaran kan peringkat berapa negara kita nih data nya..
10. Malaysia dengan total volume impor 1 juta ton
9. Senegal dengan total volume impor 1,1 juta ton
8. Irak dengan total volume impor 1,2 juta ton
7. Uni Eropa dengan total volume impor 1,5 juta ton
6. Saudi Arabia dengan total volume impor 15 juta ton
5. Indonesia dengan total volume impor 1,6 juta ton WOW...
4. Iran dengan total volume impor 1,6 juta ton
3. Filiphina dengan total volume impor 1,8 juta ton
2.Nigeria dengan toyal volume impor 3,0 juta ton
1.China dengan total volume impor 4,7 juta ton
(sumber: Liputan6.com)
Nah sekarang udah tau kan peringkat berapa Indonesia, terlepas dari itu termasuk membanggakan atau tidak, Faktanya ketergantugan kita terhadap impor begitu besar lalu pertanyaan yang timbul adalah Mengapa bisa? Kita punya tanah yang subur dan punya sistem bercocok tanam yang panjang sejak zaman nenek moyang dulu dan bahkan negara-negara lain pun banyak yang belajar bercocok tanam dari Indonesia lho..
Lalu mengapa masih bisa kekurangan beras? Apa petani kita kurang produktif? Nampaknya tidak adil jika selamanya kita menyalahkan petani, usaha keras mereka yang mungkin selama ini kita tidak mengetahui bahkan tidak menghargai dengan menyisakan nasi saat makan atau bahkan membuang-buang makanan. Disisi lain dibelahan dunia yang lain orang-orang kelaparan dan bahkan mungkin makanan lebih berharga dari pada emas sekalipun.
Seorang dosen pernah bilang bahwa kenapa banyak Mahasiswa yang lebih memilih mengambil fakultas yang bersifat sosial dibandingkan Fakultas yang bersifat teknik atau Pertanian, mungkin ada benarnya juga petani kita kekurangan sumber ilmu baru tentang bercocok tanam dan teknik bertani yang modern hingga saat ini masih mengandalkan sistem tradisional walaupun sekarang sudah banyak petani kita yang berlalih ke sistem modern semisal jika dahulu untuk membajak sawah dibutuhkan kerbau atau sapi tetapi sekarang sudah ada mesin bajak yang diberikan oleh pemerintah lebih efektif dan efisien kan? Jika dulu untuk menumbuk padi masih menggunakan alu dan butuh proses lama sekarang sudah ada penggiling padi lebih cepat dan hasilnya pun bagus. Perlahan namun pasti Pahlawan pangan kita sudah mulai mengikuti perkembangan zaman mantap kan!. Namun itu masih saja belum cukup untuk  bisa memenuhi kebutuhan pangan nasional butuh suatu metode baru yang dikembangkan dan itu lahir dari generasi bangsanya sendiri ya Mahasiswa.
Mengapa kita masih saja kekurangan beras padahal itu merupakan makanan pokok orang Indonesia? Alokasi dana untuk sektor pertanian dalam APBN terus bertambah termasuk dana desa yang diharapkan mampu membantu kehidupan petani tapi kenapa petani masih hidup miskin. Di tahun 2015 pemerintah mengalokasikan dana desa sebesar Rp.20,8 Triliyun dan di tahun ini pemerintah menaikkan dana desa menjadi Rp. 47 Triliyun jadi setiap desa akan mendapatkan dana sebesar Rp.628,5 juta. BPS mencatat hingga akhir tahun 2014,pendapatan rumah tangga petani atau RTP sebesar Rp.12,41 juta per tahun,sehingga semakin banyak petani alih profesi terutama menadi supir angkutan umum. Jumlah RTP pada tahun 2003 tercatat sekitar 26 juta rumah tangga pada tahun 2014.
(sumber: voaindonesia.com)

Dengan dana begitu besar seharusnya pemerintah pusat dan daerah bisa untuk menambah kesejahteraan petani dengan menambah alat-alat yang lebih modern agar lebih efisien serta melakukan kebijakan ekonomi yang pro petani seperti pengurangan sedikit demi sedikit impor bahkan garam pun sampai harus impor,kita punya laut luas mengapa engga petani kita sendiiri yang diberdayakan dengan anggaran sebanyak itu?.
Lalu apa sumbangsih kita untuk menghargai para Pahlawan pangan di era saat ini,tentu masih ingat kan saat kita kecil dahulu ibu kita sering bilang “dihabiskan ya nasinya nak kan kasihan nanti nasi nya nangis” hmm jadi kangen ibu .. oke balik ke topik sebenernya bukan nasinya yang nangis tetapi itu Cuma kiasan yang diajarkan ibu kita tentang menghargai nasi, karena ada seseorang yang berjuang untuk setiap butir nasi yang ada di meja makan kita jadi mulailah menghargai pahlawan pangan kita dengan tidak membuang-buang makanan.
Yang kedua adalah kita beli beras dari petani lokal soal kualitas engga kalah saing kok semisal jenis Pandan Wangi,Rojo Lele dll dengan kita membeli beras dari petani lokal kita juga turut membantu mereka dalam menjual hasil produksi nya dan juga dari Pemerintah dengan membeli beras tidak dengan harga murah dari petani dan dapat menerapkan kebijakan ekonomi yang pro dengan petani lokal sendiri mengurangi anggaran impor dan menambah anggaran untuk membantu petani lokal dalam produksi berasnya.
Akhir kata kita negara besar dengan penduduk terbesar ke 4 kita mampu mandiri di sektor pangan asalkan kita mau bekerja sama di semua sektor untuk mewujudkannya hingga tidak adanya lagi Masyarakat Indonesia yang mati karena kelaparan atau karena penyakit gizi buruk.
Sekian artikel ini mohon maaf apabila ada kesalahan kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan penulis kedepannya. Terima kasih Wassalamu’alaikum Wr Wb